Sunday, October 27, 2013

PSH SubRayon Sawo Kecik

Persaudaraan Setia Hati Subrayon sawo kecik berada pada Ranting Brondong cabang Lamongan-Jatim.
dimana sawo kecik merupakan perkampungan cukup padat penduduknya terutama pada kalangan pemuda-pemudi,
adanya Persaudaraan Setia Hati di Sawo kecik berkat persebaran dari latihan PSH di kawasan Ranting brondong, latihan pertama di sawo kecik di adakan pada tahun 2003/2004, yang sampai sa'at ini tetap Exis dengan latihan-latihan Persaudaraan Setia Hati baik latihan untuk Pemula/Siswa maupun latihan Pencak Setia Hati pada kadang/Pelatih, dengan perkembangannya di sawo kecik tidak hanya menerima pemula/siswa dari dalam lingkup kampung sawo kecik saja melainkan banyak dari desa-desa lain baik dari Tegal sari, Blimbing, dsb. sudah puluhan atau Ratusan kadang PSH sawo kecik yg sampai sekarang ini kebanyakan masih aktif dalam kegiatan PSH yang di komandoi mas KASURIP ketua RT sekaligus Ketua PSH subrayon Sawo kecik,  Para kadang PSH Subrayon sawo kecik pun berikrar akan tetap selalu Setia dan terus mengembangkan ajaran Berbudi pekerti dari Persaudaraan Setia Hati yang berdiri sejak tahun 1932. dengan perkembangan PSH di Subrayon sawo kecik juga ikut andil besar dalam Ranting yakni Ranting Brondong.

Ketua Subrayon & kandidat calon kadang PSH

Latihan Fisik pada Pemula/Siswa
 

 



Acara Silaturahmi antar kadang PSH di Subrayon Sawo Kecik



 



Saturday, October 26, 2013

NGALAH-NGALIH-NGAMUK

Prinsip Sebagai kadang Persaudaraan Setia Hati,,,, NGALAH-NGALIH-NGAMUK

Pertama, NGALAH punya pengertian yang mengadung makna yang sangat besar yaitu dari pada bentrok lebih baik diam. Dan kalau dijadikan kata sifat, ngalah ini memang luar biasa! Jangan lupa, ngalah itu bukan kalah, tapi mengalah, alias lebih mengendepankan rasa rendah hati dan kebaikan budi bagi orang yang mempergunakannya. Orang yang ngalah sekali lagi bukan kalah, tapi berusaha untuk diam dan tak ingin ribut-ribut, bukan karena takut, tapi lebih jauh berpikir kedepan, buat apa ribut? Untuk apa ribut-ribut? Apa lagi kalau yang diributkan hanya masalah “sepele”, masalah”kecil”, masalah yang “tak ada artinya”.

Kedua, NGALIH, ini juga punya pengertian yang unik, yaitu dari pada ribut atau ramai lebih baik minggir. Dan ini juga bukan pengertian penakut atau pengecut, tapi lebih disadarkan kepada tak ingin ramai atau dibuat keributan. Nah orang yang ngalih, biasanya memang pendiam, tak banyak bicara yang tak perlu, lalu kapan orang yang ngalih bicara? Dia bicara saat ingin diam, dan dia akan diam saat ingin bicara! Anehkan? Seperti terbalik-balik.

Tapi memang begitulah orang yang ngalih, tak banyak bicara, bicara seperlunya, memang kesannya seperti sombong, namun hal itu dilakukan untuk menghindari keributan yang tak perlu. Orang yang banyak ngalih, bukan takut, bukan pengecut, tapi lebih mengedepankan persaudaraan, pertemanan, persahabatan dan seterusnya. Bisa saja orang yang ngalih, hatinya disakiti atau perasaannya dilukai, tapi karena tak ingin menimbulkan keributan, dia lebih baik diam, apa lagi kalau yang diributkan bukan masalah yang prinsifil, bukan masalah akidah atau tauhid.

Ketiga, ngamuk,nah kalau yang ketiga ini, akan terjadi bila yang pertama dan yang kedua, yaitu ngalah dan ngalih sudah tak bisa ditahan lagi. Ibarat bendungan sudah tak mampu menahan volume air yang begitu banyak dan akhirnya bandunganpun jebol! Kalau sebuah bendungan jebol, maka akibatnya sudah bisa dibayangkan, air tadi akan menjadi “raksasa” yang menghantam atau menghajar apa saja yang dilaluinya, air ini akan menghantam apapun yang dilewati dan tentu saja merusak segalanya yang dilewati.

Thursday, October 24, 2013

Sejarah 10 Perguruan Historis IPSI


Pasca penyerahan kedaulatan oleh Belanda kepada Republik Indonesia (dulu masih bernama RIS-Republik Indonesia Serikat) tanggal 27 Desember 1949, pusat Pemerintahan Republik Indonesia berpindah tempat dari Yogykarta kembali ke Jakarta. Sebelumnya, selama empat tahun Yogyakarta pernah menjadi ibukota Republik Indonesia, yaitu resminya sejak 4 Januari 1946 sampai 27 Desember 1949. Perpindahan pusat pemerintahan tersebut diikuti dengan perpindahan kantor kementerian, dan kantor-kantor atau instansi milik pemerintah.
Demikan pula pada tahun 1950 Pengurus Besar IPSI secara de facto juga berpindah tempat dari Yogyakarta ke Jakarta, sekalipun tidak semua anggota pengurus-pengurus Ikatan Pencak Silat Indonesia dapat ikut pindah ke Jakarta. Waktu itu IPSI baru 2 tahun berdiri, yaitu sejak didirikan pada tanggal 18 Mei 1948 di Surakarta, oleh Panitia Persiapan Persatuan Pencak Silat Indonesia, yang menetapkan Mr. Wongsonegoro sebagai Ketua PB.IPSI. Saat IPSI berdiri, Republik Indonesia sedang dalam masa perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan dan memantapkan kedaulatan Republik Indonesia, yang harus ditempuh melalui perjuangan baik secara fisik maupun diplomasi. Kondisi ini juga mengakibatkan IPSI yang masih berusia muda harus mengkonsentrasikan pengabdiannya kepada perjuangan kemerdekaan, sehingga kondisi manajerial dan operasional IPSI kala itu mau tidak mau mengalami penyusutan.

Di sisi lain, Pemerintah Pusat RI kala juga sedang menghadapi pemberontakan Darul Islam dan Tentara Islam Indonesia ( DI/TII ) di beberapa daerah, termasuk di Jawa dan Lampung. Untuk menambah kekuatan dalam melawan DI/TII tersebut, Panglima Teritorium III waktu itu, Kolonel (terakhir Letnan Jenderal) R.A. Kosasih, dibantu Kolonel Hidayat dan Kolonel Harun membentuk PPSI (Persatuan Pencak Silat Indonesia), yang kala itu didirikan untuk menggalang kekuatan jajaran Pencak Silat dalam menghadapi DI/TII yang berkembang di wilayah Lampung, Jawa Barat (termasuk Jakarta), Jawa Tengah bagian Barat termasuk D.I. Yogyakarta.

Setidaknya dalam kondisi tersebut timbulah dualisme dalam pembinaan dan pengendalian Pencak Silat di Indonesia, yaitu Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) dengan konsentrasi lebih banyak dalam hal pembinaan pada aspek Olah Raga, sedangkan Persatuan Pencak Silat Indonesia (PPSI) lebih banyak membina pada aspek seni pertunjukan (ibing Pencak Silat) dan Pencak Silat bela diri untuk melawan DI/TII. Selain dua organisasi, IPSI dan PPSI ini, juga terdapat beberapa organisasi lain seperti Bapensi, yang masing-masing berupaya merebut pengaruh sebagai induk pembinaan pencak silat di Indonesia.

Sementara itu IPSI harus berjuang keras agar pencak silat dapat masuk sebagai acara pertandingan di Pekan Olahraga Nasional. Hal serupa juga dilakukan oleh PPSI yang setiap menjelang PON juga berusaha untuk memasukkan pencak silatnya agar dapat ikut PON. Namun Pemerintah, yang pada tahun 1948 juga ikut berperan mendirikan IPSI, hanya mengenal IPSI sebagai induk organisasi pencak silat di Indonesia.

Kala itu induk organisasi olahraga yang ada adalah KOI (Komite Olimpiade Indonesia) diketuai oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX, dan PORI (Persatuan Olahraga Republik Indonesia) dengan Ketua Widodo Sosrodiningrat.Di tahun 1951, PORI melebur kedalam KOI. Tahun 1961 Pemerintah membentuk Komite Gerakan Olahraga (KOGOR) untuk mempersiapkan pembentukan tim nasional Indonesia menghadapi Asian Games IV di Jakarta. Kemudian di tahun 1962 Pemerintah untuk pertama kalinya membentuk Departemen Olahraga (Depora) dan mengangkat Maladi sebagai menteri olahraga. Selanjutnya di tahun 1964 Pemerintah membentuk Dewan Olahraga Republik Indonesia (DORI), yang mana semua organisasi KOGOR, KOI, top organisasi olahraga dilebur ke dalam DORI.

Pada tanggal 25 Desember 1965, IPSI ikut membentuk Sekretariat Bersama Top-top Organisasi Cabang Olahraga, yang kemudian mengusulkan mengganti DORI menjadi Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) yang mandiri dan bebas dari pengaruh politik, yang kemudian kelak pada 31 Desember 1966 KONI dibentuk dengan Ketua Umum Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Maka kala itu IPSI juga ikut memegang peranan penting dalam sejarah pembentukan KONI sehingga kelak menjadi induk organisasi olahraga di Indonesia.

Menjelang Kongres IV IPSI tahun 1973 beberapa tokoh Pencak Silat yang ada di Jakarta membantu PB IPSI untuk mencari calon Ketua Umum yang baru, karena kondisi Mr. Wongsonegoro yang pada saat itu sudah tua sekali. Salah satu nama yang berhasil diusulkan adalah Brigjen.TNI Tjokropranolo (terakhir Letjen TNI) yang pada saat itu menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Sekalipun kelak kemudian pada Kongres IV ini beliau terpilih sebagai Ketua Umum PB IPSI, namun jalan bagi Brigjen.TNI. Tjokropranolo tidaklah semudah yang dibayangkan. Masih banyak tugas dan tanggung jawab  PB IPSI yang kelak harus dihadapi dengan serius. Disamping itu PB IPSI pun perlu merumuskan jati dirinya secara lebih aktif, disamping merumuskan bagaimana mempertahankan eksistensi dan historis IPSI dalam langkah pembangunan nasional.
 
Karena itu kemudian Brigjen.TNI. Tjokropranolo dibantu oleh beberapa Perguruan Pencak Silat yaitu:
  • Persaudaraan Setia Hati : Bapak. Mariyun Sudirohadiprodjo, Bapak. Mashadi, Bapak. Harsoyo dan Bapak .H.M. Zain;
  • dari KPS Nusantara :Bapak. Moch Hadimulyo dibantu Bapak. Sumarnohadi, Dr. Rachmadi, Dr. Djoko Waspodo;
  • Perisai Diri : Bapak. Arnowo Adji HK;
  • dari Phasadja Mataram : Bapak. KRT Sutardjonegoro;
  • dari Perpi Harimurti : Bapak. Sukowinadi;
  • dari Perisai Putih : Bapak.Maramis, Bapak. Runtu, Bapak. Sutedjo dan Bapak. Himantoro;
  • dari Putera Betawi : Bapak.H. Saali;
  • dari Tapak Suci : Bapak Haryadi Mawardi, dibantu Bpk. Tanamas;
  • dari Persaudaraan Setia Hati Terate : Bapak. Januarno, Bapak. Imam Suyitno dan Bapak. Laksma Pamudji.

Salah satu tantangan yang cukup berarti saat itu adalah belum berintegrasinya PPSI ke dalam IPSI. Kemudian atas jasa Bapak Tjokropranolo berhasil diadakan pendekatan kepada 3 (tiga) pimpinan PPSI yang kebetulan satu corps yaitu Corps Polisi Militer. Sejak itu PPSI setuju berintegrasi dengan IPSI, kemudian Sekretariat PB IPSI di Stadion Utama dijadikan juga sebagai Sekretariat PPSI. Pada Kongres IV IPSI itulah kelak kemudian, H. Suhari Sapari, Ketua Harian PPSI datang ke Kongres dan menyatakan bahwa PPSI bergabung ke IPSI.

Kongres IV IPSI tahun 1973 menetapkan Bp. Tjokropranolo sebagai Ketua PB. IPSI menggantikan Mr. Wongsonegoro. Mr. Wongsonegoro telah berjasa mengantarkan IPSI dari era perjuangan kemerdekaan menuju era yang baru, era mengisi kemerdekaan. Saat inilah seolah IPSI berdiri kembali dan lebih berkonsentrasi pada pengabdiannya, setelah sebelumnya melalui masa-masa perang fisik dan diplomasi yang dialami seluruh bangsa Indonesia. Di bawah kepemimpinan Bapak Tjokropranolo ini IPSI semakin mantap berdiri dengan tantangan-tantangan yang baru sesuai perkembangan zaman. Pada Kongres IV IPSI itu pun sepuluh perguruan yang menjadi pemersatu dan pendukung tetap berdirinya IPSI diterima langsung sebagai anggota IPSI Pusat, dan kemudian memantapkan manajemen, memperkuat rentang kendali PB IPSI sampai ke daerah-daerah, dan mempersatukan masyarakat pencak silat dalam satu induk organisasi. Untuk selajutnya Bapak Tjokropranolo menegaskan bahwa 10 (sepuluh) Perguruan Silat tersebutlah yang telah berhasil bukan sekedar menyusun bahkan juga melaksanakan program-program IPSI secara konsisten dan berkesinambungan.

Maka selanjutnya yang dimaksud dengan sepuluh perguruan tersebut adalah:


  1. Persaudaraan Setia Hati,
  2. Persaudaraan Setia Hati Terate,
  3. Perisai Diri,
  4. Perisai Putih,
  5. Tapak Suci,
  6. Phasadja Mataram,
  7. Perpi Harimurti,
  8. Persatuan Pencak Seluruh Indonesia (PPSI),
  9. Putera Betawi,
  10. KPS Nusantara.

Pada waktu kepemimpinan Bapak. H. Eddie M. Nalapraya nama kelompok 10 (sepuluh) Perguruan Silat anggota IPSI Pusat tersebut diubah menjadi 10 (sepuluh) Perguruan Historis, setelah sebelumnya sempat istilahnya disebut sebagai  Top Organisasi, atau Perguruan Induk kemudian menjadi Perguruan Anggota Khusus karena keanggotannya di IPSI Pusat menjadi anggota khusus. Di dalam setiap Munas IPSI maka Perguruan Historis ini selalu menjadi peserta dan memiliki hak suara di dalam Munas.
Sumber:
1. H. Haryadi Mawardi (Perguruan TAPAK SUCI)
2. Sejarah KONI
3. Tulisan H. Harsoyo (Perguruan Persaudaraan Setia Hati)
4. Arsip  penelitian pribadi

Sunday, October 20, 2013

ALBUM PSH LAMONGAN

Organisasi Persaudaraan Setia Hati (PSH) kini mulai berkembang dengan pesat di wilayah kabupaten Lamongan. kini kadang PSH di lamongan sudah berjumlah Ribuan orang. yang tersebar di beberapa Ranting antara Lain Ranting Laren, Ranting Kali Tengah, Ranting Brondong, Ranting Lamongan Kota, Ranting Paciran, Ranting Maduran, Ranting Deket, Ranting Solokuro, Ranting Kedung Pring, Ranting Turi dan Ranting Panceng (Kab. Gresik).
pada tahun 2013 Persaudaraan Setia Hati (PSH) membangun kembali kepengurusan Cabang/ Pengcab.. untuk memajukan kembali PSH sesuai khittahnya, yang di susul dengan kepengurusan di setiap kecamatan/ Ranting,

                                                 Subrayon Sawo Kecik BRONDONG
                                                            Ranting SOLOKURO

                                                             Ranting PACIRAN



                                                               Ranting LAREN  
                                    
                                                             Rayon Pelangwot
                                                                    Ranting Turi
                                                                     Ranting Brondong




Unsur Ajaran Persaudaraan SETIA HATI

Persaudaraan Setia Hati Merupakan Organisasi Pencak silat pertama yang masuk urutan pertama dari 10 Perguruan Historis pembentukan IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia) Dalam PSH kita tidak hanya belajar pencak silat atau beorganisasi tapi lebih dari itu maka dari kita mengenal adanya 5 dasar PSH, meliputi :

1.Persaudaraan.
2.Olahraga
3.Beladiri
4.Kesenian.
5.Kerohanian / Ke -- SH -- an .

1. Persaudaraan :
Persaudaraan adalah suatu hubungan batin antara manusia dengan manusia yang sifatnya seperti saudara kandung dan ini di tanamkan awal mulai menjadi Pemula Di PSH, Dengan persaudaraan , manusia di akui dan di perlakukan sesuai dengan harkat martabatnya sebagai makhluk Tuhan yang sama derajatnya. Perlakuan ini tanpa membedakan hak dan kwajiban azasinya , kedudukan sosial ekonomi , keturunan , agama & kepercayaan , jenis kelamin dll . Yang mana Persaudaraan dalam PSH bersifat kekal dan abadi.

2. Olahraga :
Pengertian olahraga di sini adalah mengolah tubuh / raga dengan gerakan pencak silat yang terdapat dalam PSH. Adapun manfa'at bermain pencak silat :
- Memperbaiki suasana hati.
- Menumbuhkhan rasa percaya diri
- Mengurangi stress
- Menguatkhan otot tubuh .
- Membantu proses metabolisme dalam tubuh.
- Membina kekuatan , kecepatan , ketepatan dan keseimbangan .

3. Beladiri :
Dengan pencak silat yang di jiwai oleh pengenalan kepada sang pencipta dan diri pribadi maka pencak silat berfungsi sebagai alat membela diri untuk mempertahankhan kehormatan.
PSH tidak mengajarkhan beladiri asing , karena pencak silat yang berakar pada budaya asli Indonesia tidak kalah mutunya dengan beladiri asing . Dengan demikian PSH ikut mempertahankhan dan mengembangkan kepribadian bangsa Indonesia.

4. Kesenian :
Seni adalah keindahan , dimana kesenian dalam pencak silat dapat berbentuk permainan tunggal , ganda atau massal .

Adapun tujuan seni dalam pencak silat :
- Memelihara kaidah pencak silat yang baik dengan menumbuhkhan kelenturan , keluwesan dan keindahan gerakan yang di hubungkan dengan keserasian irama.
- Sebagai latihan dalam pengembangan aspek keserasian dan keselarasan yang di harapkhan dapat berpengaruh dalam sikap dan perilaku hidupnya.




5. Kerohanin / Ke -- SH -- an :
Di dalam PSH , kerohanian sering di sebut dengan ke -SH- an . kerohanian merupakan sumber azasi Tuhan YME untuk mencapai Manusia yang berbudi pekerti  luhur guna kesempurnaan hidup . Adapun tujuan kerohanian dalam PSH adalah unutk mendidik Kadang/saudara PSH yang berjiwa setia hati agar di dalam menempuh kehidupan ini memperoleh kebahagian dan kesejahteraan lahir batin dunia dan akhirat .

Thursday, October 18, 2012

Sejarah SH

upakan perwujudan ikrar bersama sejumlah khadang SH dari Semarang, Magelang, Solo, Yogyakarta dan lain-lain, atas prakarsa saudara tua SH Munandar Harjowiyoto dari Ngambe, Ngawi, Jawa Timur. Karena terdiri dari sejumlah kadhang SH, maka disebut dengan nama Setia Hati Organisasi (SHO), yaitu orang-orang SH yang berorganisasi. Hadir pada waktu itu 50 saudara SH dan utusan-utusan, antara lain Suwignyo, Sukandar, Sumitro, Kasah, Karsiman, Suripno, Sutardi, Hartadi, Sayuti Melok (R Sudarso Wirokusumo, 1979 : Stensilan). Karena Ki Ngabei Surodiwiryo tidak dapat hadir dalam undangan tersebut, maka dipilihlah Munandar Harjowiyoto sebagai ketua Mental Spiritual ke-SH-an, tetapi jalan sejarah menjadi lain, ia terpaksa meninggalkan Semarang (kedudukan Pengurus Besar SHO di tahun 1933) untuk merawat ibunya yang sudah tua dan baru ditinggal wafat suami.

Persaudaraan Setia Hati (SHO) didirikan pada waktu benih kebangsaan (nasionalisme Indonesia) mulai tersebar luas dan diresapi oleh rakyat Indonesia, meskipun tidak disenangi oleh kolonialis Belanda. Kegiatan partai-partai yang mencita-citakan kemerdekaan sangat dibatasi bahkan dilarang. Tokoh-tokoh pergerakan yang dianggap membahayakan kekuasaan Belanda di Indonesia, banyak yang di tangkap dan dipenjarakan (dibuang) ke Digul, Irian Barat. Akan tetapi, kaum nasionalis Indonesia tetap berjuang dan bergerak terus-menerus dengan berbagai cara, illegal maupun legal untuk mempersiapkan rakat memasuki fase perjuangan kemerdekaan dengan segala konsekwensinya.

Jikalau parta-partai politik yang terang-terangan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dilarang, maka dicarilah bentuk-bentuk organisasi yang lebih lunak yang tidak dilarang oleh pemerintah kolonialis Belanda, yang tetap dapat memelihara dan makin menyalakan api kemerdekaan yang terdapat di hati rakyat, meskipun secara terselubung. SHO merupakan salah satu bentuk organisasi perjuangan tersebut, suatu organisasi olah raga dan persaudaraan yang masih tidak dilarang, dengan mempunyai Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga yang tidak berbau politik.

Sebenarnya para pendiri SHO waktu itu, dari hati sanubari mereka bergolak cita-cita politik dan menginginkan kemerdekaan tanah air dan bangsanya. Panca Dharma dan kalimat-kalimat serta rumusan-rumusan yang tercantum dalam Anggaran Dasar SHO dengan rapi dan lihai membungkus cita-cita kemerdekaan nasional bangsa Indonesia, sekaligus merintis character dan nation building secara samar (di mata pemerintah kolonial Belanda), akan tetapi jelas dan tegas dihati kaum nasionalis Indonesia.

Karena perjuangan tidak dapat diketahui atau diramalkan kapan akan selesai, maka dituntut keberanian berkorban, keberanian menderita dan kalau perlu juga keberanian bertempur mati-matian, maka warga SHO digembleng lahir bathinnya dan diperlengkapi dengan senjata pencak SH yang tangguh. Bahwa dalam setiap perjuangan diperlukan persatuan yang kokoh dan kuat, maka SHO berusaha untuk dapat menjadi wadah dan esuh persaudaraan di antara para anggotanya, sehingga jiwa persatuan dan rasa bersaudara terjelma akrab. Kiranya tidak tanpa maksud, jikalau para anggota SHO saling memperlakukan diri mereka sebagai broeders dan mungkin juga sebagai wapen broeders yang terikan erat oleh sumpah mereka masing-masing pada waktu memasuki Persaudaraan Setia Hati, apabila pihak Belanda dapat mencium maksud dan tujuan organisasi-organisasi perjuangan terselubung, semacam SHO waktu itu, maka pastilah SHO tidak akan panjang umurnya. Oleh karena itu, maka untuk masuk dalam Persaudaraan Setia Hati diperlakukan semacam penyaringan yang ketat melalui sistem kandidat yang berat dan lama, sebelum orang tersebut dapat diterima menjadi saudara. Rasa anti penjajahan walaupun tidak diindoktrinasikan, menjiwai para warga SHO. Perjuangan politik secara gerilya yang ditujukan kepada pemerintah kolonial Belanda menjadi pengetahuan umum dan disadari akan bahayanya dikalangan SHO, maka kerahasiaan cita-cita SHO yang sebenarnya harus dijaga dengan penuh kewaspadaan dan kesetiaan. Gerak langkah, perilaku dan budi pekerti tiap warga SHO dapat menjadi jaminan bahwa SHO akan berhasil ikut mengantarkan bangsanya memasuki fase perjuangan kemerdekaan yang dicita-citakan oleh patriot Indonesia. 

Sementara itu, permintaan untuk dapat diterima menjadi saudara SH di luar Semarang terus bertambah, antara lain di Mataram Yogyakarta. Juni 1936 di Magelang, Jawa Tengah, diadakan Leiders Conferentie untuk memurnikan kembali jurus-jurus SH yang mengalami penyimpangan dari aslinya. Tahun 1938 atas hasil musyawarah di Semarang, Pengurus Besar SHO dipindahkan ke Yogyakarta dan Alip Purwowarso dipilih sebagai Ketua.

Sesudah bangsa Indonesia benar-benar memasuki fase perjuangan fisik dalam revolusi kemerdekaan, akibat proklamasi 17 Agustus 1945, maka kerahasiaan perjuangan SHO tidak penting lagi. Suatu fase baru dalam taktik perjuangan, merebut dan mempertahankan proklamasi kemerdekaan, telah pecah menjadi clash bersenjata secara terbuka, para warga SHO menjadilah pejuang-pejuang kemerdekaan, mendharmabhaktikan diri di segala medan perjuangan menurut bakat dan kemampuan masing-masing.

Sesudah rakyat Indonesia mempunyai pemerintahan sendiri yang merdeka dan berdaulat, membangun negara Republik Indonesia berdasarkan Pancasila, perjuangan nasional menjadi makin berat. Revolusi yang multi-kompleks ternyata meminta banyak pengorbanan. Di bidang diplomasi dan militer masih memerlukan waktu bertahun-tahun. Para warga SHO, seperti para warga Indonesia lainnya yang mencintai kemerdekaan dan yang berjuang untuk kelestarian negara Republik Indonesia, juga mengalami ujian dan tantangan yang sama, merasakan suka dukanya perjuangan di berbagai bidang. Yang selamat berhasil melihat Republik Indonesia menjadi negara yang merdeka dan berdaulat, yang kemudian diakui oleh seluruh dunia. Yang kurang beruntung, gugur dalam membela cita-citanya sebagai pahlawan ataupun pejuang yang tak dikenal namanya, menghias Ibu Pertiwi. Sebagian lagi yang terlibat dalam perjuangan di medan pertempuran menghadapi musuh-musuh, dengan senjata seadanya (tombak, keris, atau bahkan hanya dengan bambu runcing), mengajarkan pencak SH kepada teman-teman seperjuangan yang bukan warga SHO, melanggar sumpah SH-nya demi kepentingan nasional yang dinilai berada di atas segala-galanya (seperti yang diajarkan juga oleh SHO).

Pada tanggal 18 Mei 1948 di Solo, terbentuklah organisasi nasional pencak silat bernama Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI), melibatkan saudara-saudara SH sebagai pelopor berdirinya IPSI bersama 15 orang tokoh-tokoh pencak silat yang antara lain dari aliran Minangkabau (Sumatra Barat) diwakili oleh Datuk Ahmad Madjoindo, aliran Sunda (Jawa Barat) diwakili oleh Surya Atmaja dan sisanya saudara-saudara SH antara lain Munandar Hardjowiyoto, Rahmad Suronagoro, R Mariyun Sudirohadiprojo dan lain-lain serta Mr Wongsonegoro sebagai Menteri PP dan K (Depdikbud). 

Dalam konggres SHO ke-10 di Semarang, tahun 1954, Munandar Harjowiyoto dipilih sebagai Ketua Umum dan oleh konggres ditetapkan sebagai lambing, meskipun pada mulanya menolak, pada akhirnya diterima. Sesudah Munandar Harjowiyoto menjadi Ketua Umum, cara anname atau keceran diubah, maju selangkah, yaitu penjelasan sebelum dikecer boleh dikatakan bersifat umum atau terbuka (sebelumnya hanya didengar oleh calon saudara baru dan saksi) dengan mengundang beberapa tokoh masyarakat dan undangan lainnya. Tanpa orientasi kepada masyarakat luas yang serba majemuk, kiranya tidak akan memperlancar tujuan SHO yang amat luhur dan mulia untuk diketahui bahwa ajaran atau falsafah SH bukanlah suatu ajaran ilmu klenik, akan tetapi suatu upaya pendidikan dalam membentuk manusia utuh yang berbudi pekerti luhur.

Kemudian pada tahun 1972, pada konggres ke-13 di Yogyakarta, menetapkan keputusan dengan kesepakatan bahwa nama SHO berubah menjadi Persaudaraan Setia Hati. Perubahan nama tersebut merupakan pernyataan Ketua Umum Konggres, Munandar Harjowiyoto yang menyatakan bahwa para khadang Persaudaraan SHO tidak lagi mengenal garis pemisah antara para khadang serumpun SH dan persaudaraan SHO menjadilah SH saja tanpa O (organisasi), kembali ke sumber. Pertimbangan yang diambil oleh Mubes adalah karena adanya Pengurus Besar, Pengurus Daerah dan Anggaran Dasar / Anggaran Rumah Tangga, sudah cukup jelas menandakan adanya organisasi. Sekaligus untuk meyakinkan para rumpun SH lainnya, khususnya para khadang SH Winongo, bahwa SHO telah menghapus atau mencabut adanya garis pemisah yang tajam antara SHO dan SH Winongo dan lainnya.

Tanggal 27 Januar 1979, Munandar Harjowiyoto meninggal dunia dan dimakamkan di Ngambe, Ngawi, Jawa Timur. Almarhum Munandar Harjowiyoto meninggalkan pesannya yang juga pesan para leluhur bangsa Indonesia, yang telah sering didengar yaitu, ing ngarso sung tulodo, ing madyo mbangun karso, tut wuri handayani. Ini berarti bahwa seorang khadang SH yang mendapat kepercayaan harus berikhtiar sekuat tenaga agar memberikan contoh yang baik.

PSH Cabang Lamongan





Persaudaraan Setia Hati yang didirikan Ki Ngabehi Surodiwiryo yang dahulu bernama Sedulur Tunggal Kecer (STK) Berpencak joyo gendelo cipto mulyo 1903 dan menjadi Setia Hati tahun 1917,, dari Murid Kinasih Ki ngabehi surodiwiryo yakni Ki munandar harjowiyoto. akhirnya dari Paguron Setia Hati ki ngabehi surodiwiryo (eyang suro) di Organisasikan oleh Ki munandar harjowiyoto bersama 50 kadang SH lainnya dg meminta Ijin dan restu Eyang suro. Menjadi Setia Hati Organisasi berdiri pada 22 mei 1932. dan pada tahun 1972 karena di anggap SHO sudah berorganisasi dg adanya AD/ART maka menghilangkan O (Organisasi) kembali Kesumbernya menjadi Setia Hati atau yang di kenal dengan Persaudaraan Setia Hati.

Persaudaraan Setia Hati Cabang lamongan didirikan Oleh Bapak Subarudin dari Bojonegoro tahun 90'an. dengan mengajarkan Pencak SH di Berbagai kecamatan. Brondong, Paciran, Laren dll.

 
Drs. Subarudin, M.Pd
dengan berprofesi sebagai guru sekolah dasar beliau juga sangat terpandang di mata masyarakat yang berkediaman di Desa Drajad (sunan Drajad) Lamongan.